Bacaan :
Roma
15:7
"Sebab
itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima
kita, untuk kemuliaan Allah."
Renungan :
Rebecca
duduk di ruang istirahat seusai membawakan seminar bertema keluarga. "Apa
yang engkau bawakan tadi sangat memberkati para pendengar," kata Jane,
seorang ibu yang saat itu menemaninya. Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun,
mata Rebecca mulai memerah dan genangan air mata memenuhi pelupuk matanya.
"Mereka pasti berpikir bahwa aku ini istri yang baik dan bahagia,"
jawab Rebecca. "Apakah kamu punya masalah serius?" tanya Jane.
"Aku sudah menikah selama 14 tahun dan suamiku adalah pria yang sangat
baik. Ia jujur, sabar, penyayang dan memiliki pekerjaan yang mapan. Ia penuh
perhatian dan selalu menanyakan keadaanku. Ketika aku harus pergi ke suatu
tempat untuk membawakan seminar ataupun acara-acara lainnya, ia selalu
menawarkan diri untuk menemani jika ia sedang tidak ada acara. Ia dengan senang
hati menyiapkan alat peraga yang kubutuhkan untuk membawakan seminar, termasuk
membawa alat peraga dan perlengkapan lainnya ke tempat di mana aku membawakan
seminar. Ia baik dan menyayangiku," kata Rebecca. "Sepertinya tidak
ada yang kurang," kata Jane. "Jane, sudah aku katakan bahwa suamiku
sangat baik. Tapi aku menginginkan sosok suami yang lebih memimpin dan bukan
melayaniku. Aku mengharapkan agar dia yang lebih terkenal dan menjadi pembicara
daripada aku," jawab Rebecca. Jane
memeluk Rebecca dan memberikan nasihat yang cukup singkat, "Ingatkah
engkau janji pernikahan yang kau ucapkan 14 tahun lalu? Bukankah Engkau sudah
berjanji untuk menerima dia apa adanya?" Rebecca terdiam sejenak. Ia mulai
menangis dan sejak saat itu ia tidak lagi mengharapkan agar suaminya menjadi
sosok yang ia inginkan. Dia mulai mensyukuri kelebihan-kelebihan yang ada dalam
diri suaminya dan menerimanya dengan segala kekurangannya.
Terkadang
kita tidak merasa puas dengan kebaikan, perhatian dan sikap melayani yang
pasangan kita lakukan terhadap kita. Idealisme yang terlalu tinggi tidak jarang
membuat kita menetapkan standar tertentu untuk pasangan kita, misalnya dia
harus menjadi orang yang tegas, pintar, berwawasan luas dan lain-lain, padahal
pasangan kita tidak bisa menjadi apa yang kita inginkan. Kekecewaan karena
pasangan kita tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan akan semakin terasa
ketika kita mulai membanding-bandingkannya dengan orang lain. Suami ataupun
istri kita pasti memiliki kekurangan tetapi Ingatlah bahwa dia juga memiliki
kelebihan. Bantulah pasangan kita untuk mengubah kekurangan di dalam dirinya
menjadi kebaikan, tetapi terimalah apa yang tidak dapat kita ubah. 1 Ptr 4: 8
berkata
"Tetapi
yang terutama: kasihilah sungguh-sungguh seorang akan yang lain, sebab kasih
menutupi banyak sekali dosa." Kasih dan penerimaan yang tulus terhadap
pasangan membuat kita menerima ketidak sempurnaannya dan tidak mempersalahkan
apalagi meributkannya. Bukankah kita sudah berjanji untuk menerima dia? Tuhan
Yesus memberkati.
Doa :
Tuhan
Yesus, aku berterima kasih untuk pasangan terbaik yang sudah Kau pilih untuk
aku. Mampukanlah aku menerima dan mengasihi dia dengan segenap hatiku. Amin.
(Dod).

Tidak ada komentar:
Posting Komentar