Translate

Selasa, 10 Januari 2023

Melihat Dengan Mata Iman

Bacaan :

2 Raja-raja 6:15-17

Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: "Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?"

Jawabnya: "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka."

Lalu berdoalah Elisa: "Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat." Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.

Renungan :

Pernahkah kita menyadari perbedaan mata jasmani dan mata iman? Mata jasmani terbentur pada sebuah tembok, tetapi mata Iman melompati tembok. Mata jasmani terbatas pada sebuah sudut jalan, tetapi mata iman melihat apa yang ada di balik sudut jalan. Mata jasmani melihat kegelapan, tetapi mata iman menjangkau secercah sinar di balik kegelapan. Mata jasmani menimbulkan keputusasaan tetapi mata iman menimbulkan kekuatan dan pengharapan. Mata iman menjadikan tenang dikala badai menerpa, terhibur ketika kesedihan mendera, tersenyum di balik duka, berbahagia di tengah kepedihan dan menemukan jalan ketika tiada jalan.

Dalam 2 Raj 6:15 -17 kita melihat tentara Raja Aram datang mengepung kota Dotan di mana Elisa berada. Dan ketika pelayan abdi Tuhan, Gehazi, melihat tentara Aram yang besar itu, maka ia ketakutan dan memberitahukan kepada Elisa. Namun Elisa hanya berkata, "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka." Gehazi dengan mata jasmaninya melihat tentara Aram yang besar sehingga membuat dia gemetar ketakutan. Sedangkan Nabi Elisa dengan mata iman, melihat tentara Tuhan yang jauh lebih besar. Gehazi hanya mampu melihat situasi yang dihadapi dengan mata jasmani. Oleh sebab itulah Nabi Elisa berdoa, "Ya Tuhan, bukalah kiranya matanya supaya ia melihat." Maka Gehazi mulai memiliki mata yang melihat. Nabi Elisa menjalani jenis kehidupan "hidup bukan karena melihat tetapi karena percaya" (2 Kor 5:7). Sedangkan Gehazi  menjalani kehidupan yang "memiliki mata namun tidak melihat" (Mrk 8:18).

Seringkali kita menjalani kehidupan kekristenan dengan mata jasmani bertindak dan berpengaruh jauh lebih besar dari mata iman. Akhirnya kehidupan kekristenan yang kita jalani adalah kehidupan yang uring-uringan karena sebuah masalah, akibatnya penuh dengan kecemasan, ketakutan dan kekalahan, tidak memiliki sikap Iman di dalam Tuhan dan kering akan campur tangan Tuhan. Ini bukanlah kehidupan yang Tuhan inginkan. Kita harus memunyai keyakinan bahwa Tuhan mengontrol seluruh kehidupan kita. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang besar, yang bukan sekadar mampu menciptakan langit dan bumi, tetapi juga mampu mengubah situasi dan kesusahan yang kita hadapi. Untuk itulah kita harus dapat melihat segala keadaan dengan mata iman, agar di setiap sudut-sudut jalan kehidupan, kita menemukan campur tangan Tuhan. Jika kita hanya hidup dengan mata jasmani, maka kecillah kekuatan kita. Tetapi ketika kita hidup dengan mata iman, maka kita lebih dari seorang pemenang.

Bagaimanakah kita dapat mengubah kehidupan kekristenan "Gehazi"  menjadi kehidupan kekristenan "Elisa"? Dengan mengubah "mata yang tidak melihat" menjadi "mata yang melihat" melalui doa. Karena doa adalah batu penjuru kehidupan kekristenan yang sejati. Berdoalah seperti yang Elisa lakukan. Tuhan Yesus memberkati.

Doa :

Tuhan Yesus, aku rindu senantiasa menikmati campur tangan-Mu dalam hidupku. Bukalah mata imanku untuk melihat dan merasakan kuasa dan keajaiban-Mu. Amin. (Dod).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bekerjalah Dengan Segenap Hati

  Bacaan : Pengkhotbah 9:10 "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada ...