Translate

Sabtu, 14 Januari 2023

Kasihilah Sesamamu

Bacaan :

1 Korintus 13:4

"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong."

Renungan :

Pada lomba lari Marathon Zheng-Kai, Tiongkok pada tahun 2010, seorang pelari maraton wanita dari Kenya bernama Jacqueline Nyetipkei Kiplimo atau biasa dipanggil Jacq, ikut dalam lomba lari tersebut. Dalam lomba itu Jacq melakukan tindakan yang sangat terpuji. Ia melihat seorang pelari asal Tiongkok yang tidak memiliki tangan dan kesulitan ketika mengambil air dan mengalami dehidrasi. Lalu Jacq menolong memberikan minum kepadanya di setiap pos dari KM 10 hingga KM 38, sampai pelari tersebut kondisinya membaik. Mau tidak mau tindakannya itu memperlambat laju larinya dan ia ketinggalan oleh peserta lain. Akhirnya Jacq harus rela hanya menjadi juara kedua dan kehilangan hadiah utama sebesar USD10.000.

Ketika media mewawancarainya, "Mengapa engkau mau membantu orang lain yang tidak kau kenal dan membuat engkau kehilangan hadiah utama? Padahal engkau berbeda warga negara, ras dan suku dengan orang tersebut, juga berbeda kulit dan kepercayaan?" Jacq menjawab, "Saya tidak pernah menyesal untuk membantu orang lain. Bagi saya, orang itu bukan orang asing tapi sesama manusia yang perlu mendapat bantuan."

Itulah kasih, berani berkorban. Kasih yang sudah Tuhan contohkan buat kita. Tuhan Yesus sudah mau mati di kayu salib untuk menebus dosa-dosa kita sehingga kita bisa diselamatkan dari dosa. Oleh karena itu, beranikah kita juga berbuat kasih kepada orang lain tanpa memandang siapa orang tersebut, sebagaimana sudah diteladankan oleh Tuhan kita Yesus Kristus? Tuhan Yesus memberkati.

Doa :

Tuhan Yesus, ajarilah aku bahasa kasih-Mu, kasih yang tanpa pamrih, kasih yang tulus dan kasih yang rela berkorban. Amin. (Dod)


Jumat, 13 Januari 2023

Kita Berharga Dimata Tuhan

Bacaan :

2 Korintus 5:16

"Sebab itu kami tidak lagi menilai seorang juga pun menurut ukuran manusia. Dan jika kami pernah menilai Kristus menurut ukuran manusia, sekarang kami tidak lagi menilai-Nya demikian."

Renungan :

Suatu ketika ada dua orang anak berusia 8 tahun menuangkan bensin di kompor untuk mendapatkan kehangatan. Ledakan hebat pun terjadi dan merengut nyawa salah seorang anak tersebut. Anak yang satunya mengalami luka bakar di kaki dan dokter menyarankan segera diamputasi agar tidak infeksi. Tetapi orang tuanya berkata, "Kita tunggu saja beberapa hari." Setelah beberap minggu, kaki anak itu pun sembuh tetapi kaki kirinya menjadi lebih pendek 6,4 cm. "Ia tidak akan pernah bisa berjalan!" kata dokter. Beberapa minggu kemudian ternyata anak itu bisa berjalan dengan bantuan tongkat penyangga. Kemudian dokter mengatakan, "Ia tidak akan bisa berjalan tanpa tongkat!" Tetapi dalam beberapa minggu, anak itu membuktikan bisa berjalan tanpa tongkat. Lagi lagi dokter berkata, "Ia bisa berjalan, tapi tidak akan pernah berlari." Tetapi anak itu belajar berlari. Ia adalah Glenn Cunningham yang telah memenangkan medali emas dan memecahkan rekor dunia 1500 m dengan waktu 4 menit 8 detik. Bagaimana bisa seorang anak yang dinyatakan menderita kelumpuhan namun kenyataannya ia berhasil menjadi seorang juara di lintasan lari? Jawabannya karena ia dan orang tuanya memunyai semangat yang pantang menyerah dan tidak kalah pada keadaan. Itulah yang menjadi kekuatan dan rahasia kesuksesannya.

Banyak orang yang sering menyerah pada keadaan dan mereka menganggap seakan-akan itu adalah jalan terbaik ketika mengalami berbagai masalah berat. Tetapi jika kita renungkan dan pikirkan kembali, apakah keputusan itu benar? Menyerah pada keadaan berarti mendengarkan dan mengamini setiap kata negatif dari orang lain untuk kita. Jika hal itu yang terjadi, maka kemungkinan tidak akan ada pemulihan. Saat Lazarus sudah dikuburkan, semua orang berkata bahwa ia sudah mati, tetapi Yesus berkata bahwa ia tertidur. Tidak selamanya kita harus mengimani apa kata orang yang buruk atau negatif tentang kita. Kita harus mengimani apa kata Tuhan dalam hidup kita yaitu kita berharga dan kita adalah biji mata-Nya.

Jadi, jika saat ini kita merasa tidak berarti dalam hidup ini karena sudah sering mendengar orang berkata kepada kita, "Bodoh, goblok, tidak akan sukses, anak sial!", inilah saatnya kita bangkit bersama Tuhan  dan mematahkan setiap kata-kata negatif yang sudah dikatakan kepada kita. Yesus yang kita sembah lebih hebat dan penuh kuasa daripada setiap perkataan negatif yang ditujukan pada kita saat ini. Tuhan Yesus memberkati.

Doa :

Tuhan Yesus, terima kasih atas firman-Mu hari ini. Kini aku sadar bahwa aku adalah pribadi yang berharga di mata-Mu. Aku mengampuni setiap pribadi yang telah berkata negatif tentang diriku. Kini, bersama dengan Engkau aku mau berubah dan hidup lebih baik lagi seperti perkataan-Mu. Amin. (Dod).


Kamis, 12 Januari 2023

Kuduskanlah Dirimu

Bacaan :

Zakharia 2:8

"Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu — sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya."

Renungan :

Suatu hari ada seorang anak kecil berumur 1 tahun yang asyik bermain-main dekat ayahnya yang sedang bekerja. Ia membuka dompet ayahnya dan mulai mengambil uang-uang yang ada di dalamnya. Melihat ayahnya menulis pada sebuah kertas, anak itu mulai merangkak mencari-cari pulpen atau spidol dan mulai mengikuti ayahnya menulis di kertas yang ia temukan dalam dompet itu. Beberapa saat kemudian saat sang ayah sudah selesai mengerjakan tugasnya, ia terkejut melihat anaknya mencoret-coret seluruh uang yang ada di dompetnya itu dengan spidol sambil tertawa-tawa. Anak kecil itu tidak mengerti betapa bernilainya kertas yang sedang dia coret-coret itu.

Apa yang dilakukan anak kecil tadi memang salah. Namun kesalahan yang diperbuatnya disebabkan karena ia tidak mengerti bahwa kertas yang ia temukan itu sangat berharga bagi keluarganya. Ia hanya tahu mengikuti apa yang ayahnya lakukan yakni mencoret-coret kertas. Demikian juga dengan kehidupan kita. Ada begitu banyak di antara kita sebagai anak-anak Tuhan yang belum mengerti dan mengetahui betapa berharganya hidup ini, sehingga kita juga mulai mencoret-coret kehidupan kita, membuat buruk dan merusak hidup kita dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna dan sia-sia. Tubuh yang sangat berharga ini, yang merupakan bait Allah justru akrab dengan alkohol, rokok atau bahkan narkoba dan obat bius. Banyak orang merusak hidupnya dengan memuaskan diri secara terus-menerus dengan hal-hal yang berbau pornografi. Sementara beberapa orang lagi sengaja menghancurkan hidup sendiri dalam keputusan, frustasi bahkan melakukan tindakan bunuh diri. Hal itu mereka lakukan karena tidak mengerti seberapa bernilainya hidup ini di hadapan Tuhan. Hari ini kita belajar agar kita tidak lagi melakukan kebodohan-kebodohan seperti itu. Hargai kehidupan kita karena kita sungguh memiliki nilai dan berharga bagi Tuhan. Kalau hidup kita tidak berharga, tidaklah mungkin Tuhan Yesus rela mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus diri kita dari dosa.

Oleh karena itu, mari kita jaga dan pelihara hidup ini dengan melakukan hal-hal yang benar dan berarti. Jangan melakukan hal yang sia-sia dan tidak berguna yang ujungnya adalah maut. Tuhan Yesus memberkati.

Doa :

Tuhan Yesus, kuserahkan hidupku dalam tangan-Mu. Kuduskanlah diriku dari segala kenajisan yang selama ini kulakukan sehingga membuat tubuhku tercemar oleh dosa. Amin. (Dod).

Lakukan Semuanya Dengan Tulus


Bacaan :

Pengkhotbah 9:10

"Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi."

Renungan :

Ada dua orang pemuda yang tidak berpengalaman mendapatkan pekerjaan di sebuah kontraktor bangunan. Namun keduanya mendapatkan pekerjaan yang berbeda. Pemuda pertama bernama Didi yang mendapat tugas untuk mengerjakan kusen, kayu dan daun pintu. Sedangkan Pemuda kedua Dodo mendapat tugas untuk mengaduk pasir dan semen serta memasang bata. Dalam pikiran Didi pekerjaannya sebagai tukang kayu lebih ringan dan mudah dibandingkan Dodo. Namun kejutan muncul saat dia tahu bahwa ternyata rumah yang akan dibangun adalah rumah dengan desain yang antik dan banyak ukiran kayunya. Itu di luar dugaan Didi. Setelah berkali-kali diajari oleh tukang senior di perusahaan itu dan ia tidak bisa juga, Didi akhirnya putus asa. Ia mendatangi Dodo yang sedang giat bekerja tanpa lelah untuk berdiskusi tentang kemungkinan tukar pekerjaan, dan ternyata Dodo setuju. Dodo akhirnya mengerjakan bagian pekerjaan Didi, tentunya dengan dilatih terlebih dahulu. Setelah beberapa waktu sang mandor memeriksa pekerjaan kedua anak baru itu. Mandor itu terpana dengan hasil kusen dan pintu yang dikerjakan dengan baik. Ia pun bertanya, "Siapa yang mengerjakan ini?" Pegawai yang ada di sana langsung menunjuk Dodo. Sang mandor penasaran bagaimana Dodo bisa bekerja dengan baik tidak seperti rekannya Didi yang menyerah di tengah jalan. "Bagi saya sederhana saja, Pak. Lakukan semuanya dengan tulus dan jangan pernah meremehkan apapun. Dengan begitu saya lebih mengerti saat diajarkan dan bersungguh-sungguh mengerjakannya," kata Dodo. Itulah rahasia keberhasilan Dodo. Dia tidak cepat meremehkan sebuah pekerjaan yang ditawarkan kepadanya. Sikapnya pada akhirnya membantu ia mencapai keberhasilan.

Hal yang sama berlaku juga dengan hidup kita. Di dalam kehidupan ini kita akan diperhadapkan dengan banyak tantangan dan seringkali berbagai tantangan yang datang justru menjadi sebuah kesempatan bagi kita untuk melangkah maju ke tingkat selanjutnya dalam mencapai keberhasilan. Kuncinya adalah bagaimana kita menyikapi tantangan itu. Jangan pernah meremehkan ataupun sebaliknya merasa tidak mampu dan menolaknya. Belajar dengan sungguh-sungguh lalu bekerja dengan segenap hati, maka hasil kerja keras kita tidak akan sia-sia. Jadi segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tidak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. Tuhan Yesus memberkati.

Doa :

Tuhan Yesus, terima kasih atas pekerjaan yang telah Kau berikan padaku. Bantulah aku agar dapat mengerjakan setiap tugas yang telah Kau percayakan padaku dengan sepenuh hati, sehingga hasilnya akan memberkati orang-orang di sekitarku. Amin. (Dod).


Selasa, 10 Januari 2023

Melihat Dengan Mata Iman

Bacaan :

2 Raja-raja 6:15-17

Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: "Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?"

Jawabnya: "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka."

Lalu berdoalah Elisa: "Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat." Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.

Renungan :

Pernahkah kita menyadari perbedaan mata jasmani dan mata iman? Mata jasmani terbentur pada sebuah tembok, tetapi mata Iman melompati tembok. Mata jasmani terbatas pada sebuah sudut jalan, tetapi mata iman melihat apa yang ada di balik sudut jalan. Mata jasmani melihat kegelapan, tetapi mata iman menjangkau secercah sinar di balik kegelapan. Mata jasmani menimbulkan keputusasaan tetapi mata iman menimbulkan kekuatan dan pengharapan. Mata iman menjadikan tenang dikala badai menerpa, terhibur ketika kesedihan mendera, tersenyum di balik duka, berbahagia di tengah kepedihan dan menemukan jalan ketika tiada jalan.

Dalam 2 Raj 6:15 -17 kita melihat tentara Raja Aram datang mengepung kota Dotan di mana Elisa berada. Dan ketika pelayan abdi Tuhan, Gehazi, melihat tentara Aram yang besar itu, maka ia ketakutan dan memberitahukan kepada Elisa. Namun Elisa hanya berkata, "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka." Gehazi dengan mata jasmaninya melihat tentara Aram yang besar sehingga membuat dia gemetar ketakutan. Sedangkan Nabi Elisa dengan mata iman, melihat tentara Tuhan yang jauh lebih besar. Gehazi hanya mampu melihat situasi yang dihadapi dengan mata jasmani. Oleh sebab itulah Nabi Elisa berdoa, "Ya Tuhan, bukalah kiranya matanya supaya ia melihat." Maka Gehazi mulai memiliki mata yang melihat. Nabi Elisa menjalani jenis kehidupan "hidup bukan karena melihat tetapi karena percaya" (2 Kor 5:7). Sedangkan Gehazi  menjalani kehidupan yang "memiliki mata namun tidak melihat" (Mrk 8:18).

Seringkali kita menjalani kehidupan kekristenan dengan mata jasmani bertindak dan berpengaruh jauh lebih besar dari mata iman. Akhirnya kehidupan kekristenan yang kita jalani adalah kehidupan yang uring-uringan karena sebuah masalah, akibatnya penuh dengan kecemasan, ketakutan dan kekalahan, tidak memiliki sikap Iman di dalam Tuhan dan kering akan campur tangan Tuhan. Ini bukanlah kehidupan yang Tuhan inginkan. Kita harus memunyai keyakinan bahwa Tuhan mengontrol seluruh kehidupan kita. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang besar, yang bukan sekadar mampu menciptakan langit dan bumi, tetapi juga mampu mengubah situasi dan kesusahan yang kita hadapi. Untuk itulah kita harus dapat melihat segala keadaan dengan mata iman, agar di setiap sudut-sudut jalan kehidupan, kita menemukan campur tangan Tuhan. Jika kita hanya hidup dengan mata jasmani, maka kecillah kekuatan kita. Tetapi ketika kita hidup dengan mata iman, maka kita lebih dari seorang pemenang.

Bagaimanakah kita dapat mengubah kehidupan kekristenan "Gehazi"  menjadi kehidupan kekristenan "Elisa"? Dengan mengubah "mata yang tidak melihat" menjadi "mata yang melihat" melalui doa. Karena doa adalah batu penjuru kehidupan kekristenan yang sejati. Berdoalah seperti yang Elisa lakukan. Tuhan Yesus memberkati.

Doa :

Tuhan Yesus, aku rindu senantiasa menikmati campur tangan-Mu dalam hidupku. Bukalah mata imanku untuk melihat dan merasakan kuasa dan keajaiban-Mu. Amin. (Dod).


Senin, 09 Januari 2023

Memohon Bukan Menuntut



Bacaan :

Markus 7:28-30

"Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak."

Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."

Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar."

Renungan :

Mungkin pernah terlintas pertanyaan di dalam hati kita, mengapa doa-doa kita begitu lama dijawab oleh Tuhan? Mungkin cara kita yang salah dalam berdoa, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul Yakobus? Hari ini kita akan mempelajari satu hal lain dari kisah perempuan Siro Fenisia ini yang tentunya menarik untuk kita perhatikan. Ketika Yesus berkata, "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing," sebagai perkataan terakhir-Nya untuk melihat reaksi akhir dari kegigihan perempuan Siro Fenisia ini, maka dengan kerendahan hatinya perempuan ini pun menjawab, "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuanya." Perempuan ini sadar betul bahwa sebagai orang non Yahudi, berkat Tuhan memang tidak diperuntukkan baginya, sehingga ia memang tidak selayaknya menerima berkat itu. Oleh karena itu, dalam sepanjang kisah ini, kita terus melihat perempuan ini memohon dan bukan menuntut atau mengklaim berkat Tuhan itu.

Ada perbedaan antara memohon dengan menuntut atau mengklaim. Memohon adalah meminta dengan hormat atau berharap supaya mendapat sesuatu. Itulah yang dilakukan oleh perempuan Siro Fenisia ini, sekalipun ia terlihat begitu gigih memperjuangkan kesembuhan bagi anaknya, namun sikap hatinya tetap merendah di hadapan Tuhan. Berbeda dengan memohon, sikap menuntut atau mengklaim lebih mengetengahkan sikap hati yang merasa berhak untuk mendapatkan berkat Tuhan.

Disadari atau tidak, seringkali kita datang kepada Tuhan tidak dengan cara memohon melainkan menuntut. Tuhan kita jadikan sebagai pribadi yang berhutang kepada kita, sehingga setiap kali kita meminta, sepertinya Tuhan wajib memenuhi permintaan kita itu. Jika tidak, kita akan marah dan kecewa, mogok ke gereja, mogok baca Alkitab atau bahkan berpaling dari iman kepercayaan kita kepada-Nya. Hari ini, mari, sekali lagi kita mengambil pelajaran berharga dari perempuan Siro Fenicia ini yang tahu bahwa apa yang dimintanya kepada Tuhan bukanlah miliknya atau haknya, sehingga ia memohon dengan sangat agar Tuhan membagikan kasih karunia yaitu walaupun hanya sedikit atau remah-remahnya saja. Ingatlah bahwa kita ini adalah orang-orang tebusan yang oleh karena kasih karunia Tuhan dilayakkan untuk menerima berkat-berkat yang Tuhan sudah janjikan. Dudukanlah diri kita pada posisi yang benar dan dudukan Tuhan pada tempat yang memang layak bagi-Nya, yaitu sebagai Tuhan pencipta kita, sumber segala berkat yang kita butuhkan untuk kehidupan kita, bukan toko berkat yang harus melayani kita. Tuhan Yesus memberkati.

 

Doa :

Tuhan Yesus, ampunilah aku karena selama ini aku selalu  menuntut-Mu untuk melakukan apa yang menjadi kehendakku. Amin. (Dod).


Minggu, 08 Januari 2023

Menantikan Dan Menerima Jawaban Doa Dari Tuhan


Kencan Dengan Tuhan

Bacaan :

2 Raja-raja 5 : 11

Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata : “Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang  ke luar dan memanggil nama TUHAN Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas penyakit itu dsn dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku!”

Renungan :

Kita tentu pernah berdoa dan meminta sesuatu kepada Tuhan. Apa yang kita pikirkan saat meminta sesuatu kepada Tuhan? Hampir semua dari kita mengharapkan agar Tuhan menjawab semua doa sesuai keinginan kita. Contohnya : “Tuhan, aku mohon berikanlah aku pekerjaan.” Dengan doa yang demikian rata-rata kita berharap agar Tuhan memberikan kita pekerjaan dengan cepat. Namun ketika jawaban doa yang kita terima harus dilakukan dengan menjalani tes dan persyaratan bermacam-macam apa yang terjadi?

Naaman pada saat datang pada Elisa, bukan hanya datang dengan sebuah permohonan tetapi juga dengan membawa metode tertentu sebagai jawaban atas permohonannya tersebut. Metodenya adalah bahwa Elisa datang mendoakannya atau menyentuh bagian tubuhnya yang sakit, lalu ia mengalami kesembuhan. Namun kenyataan yang terjadi tidaklah sesuai dengan apa yang ia harapkan. Ia justru disuruh pergi mencelupkan diri tujuh kali di sungai Yordan. Jawaban Elisa diluar dugaan membuatnya kecewa, sehingga ia ingin pulang.

Reaksi seperti Naaman itu juga seringkali kita lakukan. Kita meminta sesuatu kepada Tuhan, tetapi kita juga sudah menyiapkan sebuah standar jawaban yang nantinya Tuhan harus menjawabnya sesuai dengan standar kita. Ingatlah permohonan kita bukan pertanyaan dengan jawaban pilihan ganda. Jika jawabannya tidak sesuai dengan pilihan yang kita maksudkan, maka akan disalahkan.

Salah satu syaratnya kita berdoa kepada Tuhan adalah harus berserah kepada Tuhan dan membiarkan-Nya menjawabnya sesuai dengan cara-Nya bukan cara kita. Ingatlah bahwa kitalah yang memohon dan Tuhan berhak menjawab sesuai cara-Nya. Tuhan mengetahui apa tang kita butuhkan dan juga inginkan, tetapi Ia adalah Tuhan yang akan menjawab doa kita dengan bijaksana.

Ketika kita datang memohon pertolongan kepada seseorang, kita pasti berharap ia menjawab permohonan kita, tetapijuga pasrah kepada apa pun jawabannya. Oleh karena itu, terimalah setiap jawaban Tuhan dengan sukacita dan belajar menyerahkan pada kehendak Tuhan saat kita meminta sesuatu kepada-Nya. Dengan begitu kita dapat melihat rencana dan perbuatan-Nya yang luar bisa didalam hidup kita. Ia adalah Tuhan yang menjawab doa kita dengan bijaksana dan apa yang benar menurut-Nya, karena Dia adalah Tuhan yang mengetahui segalanya, termasuk apa yang terbaik bagi kita.

Tuhan Yesus Memberkati

Doa :

Tuhan Yesus,terimakasih karena telah mengajariku bagaimana seharusnya aku menantikan dan menerima jawaban doa dari_mu.

Amin


Bekerjalah Dengan Segenap Hati

  Bacaan : Pengkhotbah 9:10 "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada ...