Bacaan :
Lukas
12:7
"Bahkan
rambut kepalamu pun terhitung semuanya. Karena itu jangan takut, karena kamu
lebih berharga dari pada banyak burung pipit."
Renungan :
Suatu
ketika ada seorang pemuda yang hidup sebatang kara. Pendidikannya rendah,
sehingga ia hidup hanya dari bekerja sebagai buruh tani milik tuan tanah yang
kaya raya. Walapun hidupnya sederhana tetapi sesungguhnya dia bisa melewati
kesehariannya dengan baik. Suatu hari, si pemuda merasa jenuh dengan
kehidupannya. Dia tidak mengerti, untuk apa sebenarnya hidup di dunia ini.
Setiap hari bekerja di ladang orang demi sesuap nasi. Hanya sekadar melewati
hari untuk menunggu kapan akan mati. Pemuda itu merasa hampa, putus asa, dan
tidak memiliki arti. "Daripada tidak tahu hidup untuk apa dan hanya
menunggu mati, lebih baik aku mengakhiri saja kehidupan ini," katanya
dalam hati. Disiapkannya seutas tali dan dia berniat menggantung diri di
sebatang pohon. Pohon yang dituju, saat melihat gelagat seperti itu, tiba-tiba
menyela lembut. "Anak muda yang tampan dan baik hati, tolong jangan
menggantung diri di dahanku yang telah berumur ini. Sayang bila dia patah.
Padahal setiap pagi ada banyak burung yang hinggap di sini, bernyanyi riang
untuk menghibur siapapun yang berada di sekitar sini." Dengan
bersungut-sungut, si pemuda pergi melanjutkan memilih pohon yang lain. Saat
bersiap-siap, kembali terdengar suara lirih si pohon, "Hai anak muda, kamu
lihat di atas sini, ada sarang tawon yang sedang dikerjakan oleh begitu banyak
lebah dengan tekun dan rajin. Jika kamu mau bunuh diri, silakan pindah ke
tempat lain. Kasihanilah lebah yang telah bekerja keras ini." Sekali lagi,
tanpa menjawab sepatah kata pun, si pemuda berjalan mencari pohon yang lain.
Kata yang didengarpun tidak jauh berbeda, "Anak muda, karena rindangnya
daunku, banyak dimanfaatkan oleh manusia dan hewan untuk sekadar beristirahat
atau berteduh di bawah dedaunanku.Tolong jangan mati di sini." Setelah pohon
yang ketiga, si pemuda termenung dan berpikir, "Bahkan sebatang pohonpun
begitu menghargai kehidupan ini. Mereka menyayangi dirinya sendiri agar tidak
patah, tidak terusik, dan tetap rindang untuk bisa melindungi alam dan
bermanfaat bagi makhluk lain. Aku manusia; masih muda, kuat, dan sehat. Tidak
pantas aku melenyapkan kehidupanku sendiri. Mulai sekarang, aku harus punya
cita-cita dan akan bekerja dengan baik untuk bisa bermanfaat bagi makhluk
lain." Si pemuda pun pulang ke rumahnya dengan penuh semangat dan perasaan
lega.
Kalau kita mengisi kehidupan ini
dengan menggerutu, mengeluh, dan pesimis, tentu kita akan menjalani hidup ini
dengan rasa terbeban. Ketika tantangan semakin berat, bisa
jadi kita mulai berpikir mengambil jalan pintas yaitu bunuh diri. Sebaliknya, kalau kita mampu menyadari
bahwa sebenarnya kehidupan ini begitu indah dan menggairahkan, bahwa kehidupan
kita dibutuhkan oleh orang lain, tentu kita akan menghargai kehidupan ini.
Jadi, mari menyadari bahwa apapun latar belakang kita, dan bagaimanapun keadaan
kita saat ini, setiap dari kita adalah berguna bagi orang lain, dan dibutuhkan
oleh dunia ini.
Tuhan
Yesus memberkati.
Doa :
Tuhan
Yesus, pakailah aku sebagai alat-Mu, agar di sisa hidupku aku dapat menjadi
berkat bagi sesamaku. Amin. (Dod)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar