Translate

Kamis, 12 Januari 2023

Kuduskanlah Dirimu

Bacaan :

Zakharia 2:8

"Sebab beginilah firman TUHAN semesta alam, yang dalam kemuliaan-Nya telah mengutus aku, mengenai bangsa-bangsa yang telah menjarah kamu — sebab siapa yang menjamah kamu, berarti menjamah biji mata-Nya."

Renungan :

Suatu hari ada seorang anak kecil berumur 1 tahun yang asyik bermain-main dekat ayahnya yang sedang bekerja. Ia membuka dompet ayahnya dan mulai mengambil uang-uang yang ada di dalamnya. Melihat ayahnya menulis pada sebuah kertas, anak itu mulai merangkak mencari-cari pulpen atau spidol dan mulai mengikuti ayahnya menulis di kertas yang ia temukan dalam dompet itu. Beberapa saat kemudian saat sang ayah sudah selesai mengerjakan tugasnya, ia terkejut melihat anaknya mencoret-coret seluruh uang yang ada di dompetnya itu dengan spidol sambil tertawa-tawa. Anak kecil itu tidak mengerti betapa bernilainya kertas yang sedang dia coret-coret itu.

Apa yang dilakukan anak kecil tadi memang salah. Namun kesalahan yang diperbuatnya disebabkan karena ia tidak mengerti bahwa kertas yang ia temukan itu sangat berharga bagi keluarganya. Ia hanya tahu mengikuti apa yang ayahnya lakukan yakni mencoret-coret kertas. Demikian juga dengan kehidupan kita. Ada begitu banyak di antara kita sebagai anak-anak Tuhan yang belum mengerti dan mengetahui betapa berharganya hidup ini, sehingga kita juga mulai mencoret-coret kehidupan kita, membuat buruk dan merusak hidup kita dengan melakukan hal-hal yang tidak berguna dan sia-sia. Tubuh yang sangat berharga ini, yang merupakan bait Allah justru akrab dengan alkohol, rokok atau bahkan narkoba dan obat bius. Banyak orang merusak hidupnya dengan memuaskan diri secara terus-menerus dengan hal-hal yang berbau pornografi. Sementara beberapa orang lagi sengaja menghancurkan hidup sendiri dalam keputusan, frustasi bahkan melakukan tindakan bunuh diri. Hal itu mereka lakukan karena tidak mengerti seberapa bernilainya hidup ini di hadapan Tuhan. Hari ini kita belajar agar kita tidak lagi melakukan kebodohan-kebodohan seperti itu. Hargai kehidupan kita karena kita sungguh memiliki nilai dan berharga bagi Tuhan. Kalau hidup kita tidak berharga, tidaklah mungkin Tuhan Yesus rela mengorbankan nyawa-Nya untuk menebus diri kita dari dosa.

Oleh karena itu, mari kita jaga dan pelihara hidup ini dengan melakukan hal-hal yang benar dan berarti. Jangan melakukan hal yang sia-sia dan tidak berguna yang ujungnya adalah maut. Tuhan Yesus memberkati.

Doa :

Tuhan Yesus, kuserahkan hidupku dalam tangan-Mu. Kuduskanlah diriku dari segala kenajisan yang selama ini kulakukan sehingga membuat tubuhku tercemar oleh dosa. Amin. (Dod).

Lakukan Semuanya Dengan Tulus


Bacaan :

Pengkhotbah 9:10

"Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi."

Renungan :

Ada dua orang pemuda yang tidak berpengalaman mendapatkan pekerjaan di sebuah kontraktor bangunan. Namun keduanya mendapatkan pekerjaan yang berbeda. Pemuda pertama bernama Didi yang mendapat tugas untuk mengerjakan kusen, kayu dan daun pintu. Sedangkan Pemuda kedua Dodo mendapat tugas untuk mengaduk pasir dan semen serta memasang bata. Dalam pikiran Didi pekerjaannya sebagai tukang kayu lebih ringan dan mudah dibandingkan Dodo. Namun kejutan muncul saat dia tahu bahwa ternyata rumah yang akan dibangun adalah rumah dengan desain yang antik dan banyak ukiran kayunya. Itu di luar dugaan Didi. Setelah berkali-kali diajari oleh tukang senior di perusahaan itu dan ia tidak bisa juga, Didi akhirnya putus asa. Ia mendatangi Dodo yang sedang giat bekerja tanpa lelah untuk berdiskusi tentang kemungkinan tukar pekerjaan, dan ternyata Dodo setuju. Dodo akhirnya mengerjakan bagian pekerjaan Didi, tentunya dengan dilatih terlebih dahulu. Setelah beberapa waktu sang mandor memeriksa pekerjaan kedua anak baru itu. Mandor itu terpana dengan hasil kusen dan pintu yang dikerjakan dengan baik. Ia pun bertanya, "Siapa yang mengerjakan ini?" Pegawai yang ada di sana langsung menunjuk Dodo. Sang mandor penasaran bagaimana Dodo bisa bekerja dengan baik tidak seperti rekannya Didi yang menyerah di tengah jalan. "Bagi saya sederhana saja, Pak. Lakukan semuanya dengan tulus dan jangan pernah meremehkan apapun. Dengan begitu saya lebih mengerti saat diajarkan dan bersungguh-sungguh mengerjakannya," kata Dodo. Itulah rahasia keberhasilan Dodo. Dia tidak cepat meremehkan sebuah pekerjaan yang ditawarkan kepadanya. Sikapnya pada akhirnya membantu ia mencapai keberhasilan.

Hal yang sama berlaku juga dengan hidup kita. Di dalam kehidupan ini kita akan diperhadapkan dengan banyak tantangan dan seringkali berbagai tantangan yang datang justru menjadi sebuah kesempatan bagi kita untuk melangkah maju ke tingkat selanjutnya dalam mencapai keberhasilan. Kuncinya adalah bagaimana kita menyikapi tantangan itu. Jangan pernah meremehkan ataupun sebaliknya merasa tidak mampu dan menolaknya. Belajar dengan sungguh-sungguh lalu bekerja dengan segenap hati, maka hasil kerja keras kita tidak akan sia-sia. Jadi segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tidak ada pekerjaan, pertimbangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi. Tuhan Yesus memberkati.

Doa :

Tuhan Yesus, terima kasih atas pekerjaan yang telah Kau berikan padaku. Bantulah aku agar dapat mengerjakan setiap tugas yang telah Kau percayakan padaku dengan sepenuh hati, sehingga hasilnya akan memberkati orang-orang di sekitarku. Amin. (Dod).


Selasa, 10 Januari 2023

Melihat Dengan Mata Iman

Bacaan :

2 Raja-raja 6:15-17

Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: "Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?"

Jawabnya: "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka."

Lalu berdoalah Elisa: "Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat." Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.

Renungan :

Pernahkah kita menyadari perbedaan mata jasmani dan mata iman? Mata jasmani terbentur pada sebuah tembok, tetapi mata Iman melompati tembok. Mata jasmani terbatas pada sebuah sudut jalan, tetapi mata iman melihat apa yang ada di balik sudut jalan. Mata jasmani melihat kegelapan, tetapi mata iman menjangkau secercah sinar di balik kegelapan. Mata jasmani menimbulkan keputusasaan tetapi mata iman menimbulkan kekuatan dan pengharapan. Mata iman menjadikan tenang dikala badai menerpa, terhibur ketika kesedihan mendera, tersenyum di balik duka, berbahagia di tengah kepedihan dan menemukan jalan ketika tiada jalan.

Dalam 2 Raj 6:15 -17 kita melihat tentara Raja Aram datang mengepung kota Dotan di mana Elisa berada. Dan ketika pelayan abdi Tuhan, Gehazi, melihat tentara Aram yang besar itu, maka ia ketakutan dan memberitahukan kepada Elisa. Namun Elisa hanya berkata, "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka." Gehazi dengan mata jasmaninya melihat tentara Aram yang besar sehingga membuat dia gemetar ketakutan. Sedangkan Nabi Elisa dengan mata iman, melihat tentara Tuhan yang jauh lebih besar. Gehazi hanya mampu melihat situasi yang dihadapi dengan mata jasmani. Oleh sebab itulah Nabi Elisa berdoa, "Ya Tuhan, bukalah kiranya matanya supaya ia melihat." Maka Gehazi mulai memiliki mata yang melihat. Nabi Elisa menjalani jenis kehidupan "hidup bukan karena melihat tetapi karena percaya" (2 Kor 5:7). Sedangkan Gehazi  menjalani kehidupan yang "memiliki mata namun tidak melihat" (Mrk 8:18).

Seringkali kita menjalani kehidupan kekristenan dengan mata jasmani bertindak dan berpengaruh jauh lebih besar dari mata iman. Akhirnya kehidupan kekristenan yang kita jalani adalah kehidupan yang uring-uringan karena sebuah masalah, akibatnya penuh dengan kecemasan, ketakutan dan kekalahan, tidak memiliki sikap Iman di dalam Tuhan dan kering akan campur tangan Tuhan. Ini bukanlah kehidupan yang Tuhan inginkan. Kita harus memunyai keyakinan bahwa Tuhan mengontrol seluruh kehidupan kita. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang besar, yang bukan sekadar mampu menciptakan langit dan bumi, tetapi juga mampu mengubah situasi dan kesusahan yang kita hadapi. Untuk itulah kita harus dapat melihat segala keadaan dengan mata iman, agar di setiap sudut-sudut jalan kehidupan, kita menemukan campur tangan Tuhan. Jika kita hanya hidup dengan mata jasmani, maka kecillah kekuatan kita. Tetapi ketika kita hidup dengan mata iman, maka kita lebih dari seorang pemenang.

Bagaimanakah kita dapat mengubah kehidupan kekristenan "Gehazi"  menjadi kehidupan kekristenan "Elisa"? Dengan mengubah "mata yang tidak melihat" menjadi "mata yang melihat" melalui doa. Karena doa adalah batu penjuru kehidupan kekristenan yang sejati. Berdoalah seperti yang Elisa lakukan. Tuhan Yesus memberkati.

Doa :

Tuhan Yesus, aku rindu senantiasa menikmati campur tangan-Mu dalam hidupku. Bukalah mata imanku untuk melihat dan merasakan kuasa dan keajaiban-Mu. Amin. (Dod).


Senin, 09 Januari 2023

Memohon Bukan Menuntut



Bacaan :

Markus 7:28-30

"Tetapi perempuan itu menjawab: "Benar, Tuhan. Tetapi anjing yang di bawah meja juga makan remah-remah yang dijatuhkan anak-anak."

Maka kata Yesus kepada perempuan itu: "Karena kata-katamu itu, pergilah sekarang sebab setan itu sudah keluar dari anakmu."

Perempuan itu pulang ke rumahnya, lalu didapatinya anak itu berbaring di tempat tidur, sedang setan itu sudah keluar."

Renungan :

Mungkin pernah terlintas pertanyaan di dalam hati kita, mengapa doa-doa kita begitu lama dijawab oleh Tuhan? Mungkin cara kita yang salah dalam berdoa, sebagaimana yang dikatakan oleh Rasul Yakobus? Hari ini kita akan mempelajari satu hal lain dari kisah perempuan Siro Fenisia ini yang tentunya menarik untuk kita perhatikan. Ketika Yesus berkata, "Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing," sebagai perkataan terakhir-Nya untuk melihat reaksi akhir dari kegigihan perempuan Siro Fenisia ini, maka dengan kerendahan hatinya perempuan ini pun menjawab, "Benar Tuhan, namun anjing itu makan remah-remah yang jatuh dari meja tuanya." Perempuan ini sadar betul bahwa sebagai orang non Yahudi, berkat Tuhan memang tidak diperuntukkan baginya, sehingga ia memang tidak selayaknya menerima berkat itu. Oleh karena itu, dalam sepanjang kisah ini, kita terus melihat perempuan ini memohon dan bukan menuntut atau mengklaim berkat Tuhan itu.

Ada perbedaan antara memohon dengan menuntut atau mengklaim. Memohon adalah meminta dengan hormat atau berharap supaya mendapat sesuatu. Itulah yang dilakukan oleh perempuan Siro Fenisia ini, sekalipun ia terlihat begitu gigih memperjuangkan kesembuhan bagi anaknya, namun sikap hatinya tetap merendah di hadapan Tuhan. Berbeda dengan memohon, sikap menuntut atau mengklaim lebih mengetengahkan sikap hati yang merasa berhak untuk mendapatkan berkat Tuhan.

Disadari atau tidak, seringkali kita datang kepada Tuhan tidak dengan cara memohon melainkan menuntut. Tuhan kita jadikan sebagai pribadi yang berhutang kepada kita, sehingga setiap kali kita meminta, sepertinya Tuhan wajib memenuhi permintaan kita itu. Jika tidak, kita akan marah dan kecewa, mogok ke gereja, mogok baca Alkitab atau bahkan berpaling dari iman kepercayaan kita kepada-Nya. Hari ini, mari, sekali lagi kita mengambil pelajaran berharga dari perempuan Siro Fenicia ini yang tahu bahwa apa yang dimintanya kepada Tuhan bukanlah miliknya atau haknya, sehingga ia memohon dengan sangat agar Tuhan membagikan kasih karunia yaitu walaupun hanya sedikit atau remah-remahnya saja. Ingatlah bahwa kita ini adalah orang-orang tebusan yang oleh karena kasih karunia Tuhan dilayakkan untuk menerima berkat-berkat yang Tuhan sudah janjikan. Dudukanlah diri kita pada posisi yang benar dan dudukan Tuhan pada tempat yang memang layak bagi-Nya, yaitu sebagai Tuhan pencipta kita, sumber segala berkat yang kita butuhkan untuk kehidupan kita, bukan toko berkat yang harus melayani kita. Tuhan Yesus memberkati.

 

Doa :

Tuhan Yesus, ampunilah aku karena selama ini aku selalu  menuntut-Mu untuk melakukan apa yang menjadi kehendakku. Amin. (Dod).


Minggu, 08 Januari 2023

Menantikan Dan Menerima Jawaban Doa Dari Tuhan


Kencan Dengan Tuhan

Bacaan :

2 Raja-raja 5 : 11

Tetapi pergilah Naaman dengan gusar sambil berkata : “Aku sangka bahwa setidak-tidaknya ia datang  ke luar dan memanggil nama TUHAN Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya di atas penyakit itu dsn dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku!”

Renungan :

Kita tentu pernah berdoa dan meminta sesuatu kepada Tuhan. Apa yang kita pikirkan saat meminta sesuatu kepada Tuhan? Hampir semua dari kita mengharapkan agar Tuhan menjawab semua doa sesuai keinginan kita. Contohnya : “Tuhan, aku mohon berikanlah aku pekerjaan.” Dengan doa yang demikian rata-rata kita berharap agar Tuhan memberikan kita pekerjaan dengan cepat. Namun ketika jawaban doa yang kita terima harus dilakukan dengan menjalani tes dan persyaratan bermacam-macam apa yang terjadi?

Naaman pada saat datang pada Elisa, bukan hanya datang dengan sebuah permohonan tetapi juga dengan membawa metode tertentu sebagai jawaban atas permohonannya tersebut. Metodenya adalah bahwa Elisa datang mendoakannya atau menyentuh bagian tubuhnya yang sakit, lalu ia mengalami kesembuhan. Namun kenyataan yang terjadi tidaklah sesuai dengan apa yang ia harapkan. Ia justru disuruh pergi mencelupkan diri tujuh kali di sungai Yordan. Jawaban Elisa diluar dugaan membuatnya kecewa, sehingga ia ingin pulang.

Reaksi seperti Naaman itu juga seringkali kita lakukan. Kita meminta sesuatu kepada Tuhan, tetapi kita juga sudah menyiapkan sebuah standar jawaban yang nantinya Tuhan harus menjawabnya sesuai dengan standar kita. Ingatlah permohonan kita bukan pertanyaan dengan jawaban pilihan ganda. Jika jawabannya tidak sesuai dengan pilihan yang kita maksudkan, maka akan disalahkan.

Salah satu syaratnya kita berdoa kepada Tuhan adalah harus berserah kepada Tuhan dan membiarkan-Nya menjawabnya sesuai dengan cara-Nya bukan cara kita. Ingatlah bahwa kitalah yang memohon dan Tuhan berhak menjawab sesuai cara-Nya. Tuhan mengetahui apa tang kita butuhkan dan juga inginkan, tetapi Ia adalah Tuhan yang akan menjawab doa kita dengan bijaksana.

Ketika kita datang memohon pertolongan kepada seseorang, kita pasti berharap ia menjawab permohonan kita, tetapijuga pasrah kepada apa pun jawabannya. Oleh karena itu, terimalah setiap jawaban Tuhan dengan sukacita dan belajar menyerahkan pada kehendak Tuhan saat kita meminta sesuatu kepada-Nya. Dengan begitu kita dapat melihat rencana dan perbuatan-Nya yang luar bisa didalam hidup kita. Ia adalah Tuhan yang menjawab doa kita dengan bijaksana dan apa yang benar menurut-Nya, karena Dia adalah Tuhan yang mengetahui segalanya, termasuk apa yang terbaik bagi kita.

Tuhan Yesus Memberkati

Doa :

Tuhan Yesus,terimakasih karena telah mengajariku bagaimana seharusnya aku menantikan dan menerima jawaban doa dari_mu.

Amin


Sabtu, 07 Januari 2023

Mengucap Syukur Dan Memuliakan Tuhan


Bacaan :

Mazmur 86:12

"Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya."

Renungan :

Dua orang pedagang asongan sedang istirahat untuk menghitung hasil jualan mereka masing-masing. Setelah dihitung ternyata hasil jualan masing-masing hanya cukup untuk satu kali biaya makan. Pedagang asongan pertama mengeluhkan betapa sedikit pendapatannya, padahal ia sudah merasa lelah berdagang di tengah cuaca yang panas. Sementara pedagang asongan yang kedua berkata, "Puji Tuhan, hasil jualan siang ini masih cukup untuk makan. Mereka sama-sama menjalani profesi sebagai pedagang kecil. Jam kerja mereka sama dan penghasilan yang mereka dapat pada saat itu pun sama. Namun, reaksi keduanya ternyata berbeda ketika melihat hasil. Satu mengeluh, satunya bersyukur.

Bukanlah hal mudah mengucap syukur di tengah situasi yang sulit. Namun, inilah tantangan kita sebagai pengikut Kristus. Kita diajar untuk senantiasa mengucap syukur dalam segala hal, lalu memuliakan namanya. Mengucap syukur dan memuliakan Tuhan merupakan dua hal yang berkaitan. Di mana ada ungkapan syukur, di situ juga nama Tuhan dipermuliakan. Dengan menyadari bahwa segala sesuatu adalah pemberian dari Tuhan, sudah selayaknyalah kita bersyukur dan memuji nama Tuhan. Tanpa penyertaan-Nya, kita bukanlah siapa-siapa dan tidak akan mendapat apa-apa. Tuhan Yesus memberkati

Doa :

Tuhan Yesus, aku mau selalu bersyukur kepada-Mu di tengah situasi apapun yang terjadi dalam hidupku. Engkau pasti memberikan yang terbaik seturut kehendak-Mu untukku. Amin. (Dod).


Jumat, 06 Januari 2023

Meraih Kekuatan Dari Tuhan



Bacaan :

1 Raja-raja 19:3-4

Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana.

Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."

 

Renungan :

Pernahkah kita kehilangan kekuatan iman ketika diperhadapkan pada suatu keadaan yang tidak terlalu genting? Seringkali kita menghadapi situasi sulit yang sangat menantang iman dan mampu melewatinya dengan iman yang terfokus pada Tuhan. Namun ada kalanya kita mengalami kekhawatiran dan ketakutan hanya karena persoalan kecil. Di gunung Karmel, Elia menantang raja Ahab beserta 400 orang nabi Baal untuk membuktikan kehebatan Tuhan. Elia mengucapkan doa yang super beriman, "Ya Tuhan, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah .... dan bahwa aku ini hamba-Mu .... Jawablah aku, ya Tuhan, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah." Lalu turunlah api menyambar habis korban bakaran Elia dan ia membunuh ke 400 nabi Baal tersebut. Namun keesokan harinya, ia lari ketakutan ketika mendengar ancaman Izebel, dan berkata, "Cukuplah itu! Sekarang, ya Tuhan, ambilah nyawaku."

Elia berdiri teguh di puncak gunung Karmel mendeklarasikan fokus dan kekuatan imannya kepada Tuhan dan meyakini 100% akan jawaban doanya. Namun imannya jatuh seketika di titik nol hanya karena ancaman seorang perempuan. Ia menjadi putus asa dan ingin mati rasanya. Demikian pula Abraham, yang melakukan hal yang sama ketika ia berbohong tentang Sarah di hadapan Firaun karena berusaha menyelamatkan nyawanya. Daud yang menuliskan pujian yang indah tentang kesetiaan Tuhan yang besar dalam hidup nya, namun juga menyerukan, "Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" Musa yang menjadi pemimpin besar, yang membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dengan perbuatan tangan Tuhan yang besar, namun ia pun berseru-seru kepada Tuhan ketika berada di Masa dan Meriba, "Apakah yang akan kulakukan pada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu."

Nabi Elia, Raja Daud dan Musa adalah pahlawan-pahlawan iman yang dipakai oleh Tuhan untuk mendemonstrasikan kuasa-Nya, akan tetapi hal ini tidaklah menjadikan mereka manusia super rohani tanpa kegagalan. Dengan demikian kita tidak perlu berkecil hati ketika tapak perjalanan iman kita seperti grafik yang menurun secara drastis. Saat-saat kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan tidak mampu kita halau, apakah yang harus kita lakukan selanjutnya? Nyatakanlah kepada Tuhan segala kelemahan iman kita dan tetaplah berdiri di gunung Tuhan. Dengan kata lain, iman kita boleh limbung namun tidaklah mati. Demikianlah Tuhan berkata setelah Elia menyampaikan ketakutannya, "Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu." Kita tidak berdiam diri ketika kondisi iman kita tercekik, namun kita harus bangkit dan meraih kekuatan Tuhan untuk menjalani hari-hari yang penuh tantangan dan menyadari Tuhan selalu setia di dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati.

 Doa :

Tuhan Yesus, aku mohon kekuatan untuk bisa bangkit ketika imanku runtuh, sehingga aku sanggup menapaki jalan kehidupanku sampai akhir. Amin. (Dod).


Bekerjalah Dengan Segenap Hati

  Bacaan : Pengkhotbah 9:10 "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada ...