Bacaan :
1
Raja-raja 19:3-4
Maka
takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai
ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana.
Tetapi
ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah
sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu!
Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada
nenek moyangku."
Renungan :
Pernahkah
kita kehilangan kekuatan iman ketika diperhadapkan pada suatu keadaan yang
tidak terlalu genting? Seringkali kita menghadapi situasi sulit yang sangat
menantang iman dan mampu melewatinya dengan iman yang terfokus pada Tuhan.
Namun ada kalanya kita mengalami kekhawatiran dan ketakutan hanya karena
persoalan kecil. Di gunung Karmel, Elia menantang raja Ahab beserta 400 orang
nabi Baal untuk membuktikan kehebatan Tuhan. Elia mengucapkan doa yang super
beriman, "Ya Tuhan, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah
diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah .... dan bahwa aku ini hamba-Mu ....
Jawablah aku, ya Tuhan, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah
Allah." Lalu turunlah api menyambar habis korban bakaran Elia dan ia membunuh
ke 400 nabi Baal tersebut. Namun keesokan harinya, ia lari ketakutan ketika
mendengar ancaman Izebel, dan berkata, "Cukuplah itu! Sekarang, ya Tuhan,
ambilah nyawaku."
Elia
berdiri teguh di puncak gunung Karmel mendeklarasikan fokus dan kekuatan
imannya kepada Tuhan dan meyakini 100% akan jawaban doanya. Namun imannya jatuh
seketika di titik nol hanya karena ancaman seorang perempuan. Ia menjadi putus
asa dan ingin mati rasanya. Demikian pula Abraham, yang melakukan hal yang sama
ketika ia berbohong tentang Sarah di hadapan Firaun karena berusaha
menyelamatkan nyawanya. Daud yang menuliskan pujian yang indah tentang
kesetiaan Tuhan yang besar dalam hidup nya, namun juga menyerukan,
"Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" Musa yang menjadi pemimpin
besar, yang membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dengan perbuatan tangan
Tuhan yang besar, namun ia pun berseru-seru kepada Tuhan ketika berada di Masa
dan Meriba, "Apakah yang akan kulakukan pada bangsa ini? Sebentar lagi
mereka akan melempari aku dengan batu."
Nabi
Elia, Raja Daud dan Musa adalah pahlawan-pahlawan iman yang dipakai oleh Tuhan
untuk mendemonstrasikan kuasa-Nya, akan tetapi hal ini tidaklah menjadikan
mereka manusia super rohani tanpa kegagalan. Dengan demikian kita tidak perlu
berkecil hati ketika tapak perjalanan iman kita seperti grafik yang menurun
secara drastis. Saat-saat kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan tidak mampu
kita halau, apakah yang harus kita lakukan selanjutnya? Nyatakanlah kepada
Tuhan segala kelemahan iman kita dan tetaplah berdiri di gunung Tuhan. Dengan
kata lain, iman kita boleh limbung namun tidaklah mati. Demikianlah Tuhan
berkata setelah Elia menyampaikan ketakutannya, "Bangunlah, makanlah!
Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu." Kita tidak berdiam
diri ketika kondisi iman kita tercekik, namun kita harus bangkit dan meraih
kekuatan Tuhan untuk menjalani hari-hari yang penuh tantangan dan menyadari
Tuhan selalu setia di dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati.
Doa :
Tuhan
Yesus, aku mohon kekuatan untuk bisa bangkit ketika imanku runtuh, sehingga aku
sanggup menapaki jalan kehidupanku sampai akhir. Amin. (Dod).