Translate

Sabtu, 07 Januari 2023

Mengucap Syukur Dan Memuliakan Tuhan


Bacaan :

Mazmur 86:12

"Aku hendak bersyukur kepada-Mu, ya Tuhan, Allahku, dengan segenap hatiku, dan memuliakan nama-Mu untuk selama-lamanya."

Renungan :

Dua orang pedagang asongan sedang istirahat untuk menghitung hasil jualan mereka masing-masing. Setelah dihitung ternyata hasil jualan masing-masing hanya cukup untuk satu kali biaya makan. Pedagang asongan pertama mengeluhkan betapa sedikit pendapatannya, padahal ia sudah merasa lelah berdagang di tengah cuaca yang panas. Sementara pedagang asongan yang kedua berkata, "Puji Tuhan, hasil jualan siang ini masih cukup untuk makan. Mereka sama-sama menjalani profesi sebagai pedagang kecil. Jam kerja mereka sama dan penghasilan yang mereka dapat pada saat itu pun sama. Namun, reaksi keduanya ternyata berbeda ketika melihat hasil. Satu mengeluh, satunya bersyukur.

Bukanlah hal mudah mengucap syukur di tengah situasi yang sulit. Namun, inilah tantangan kita sebagai pengikut Kristus. Kita diajar untuk senantiasa mengucap syukur dalam segala hal, lalu memuliakan namanya. Mengucap syukur dan memuliakan Tuhan merupakan dua hal yang berkaitan. Di mana ada ungkapan syukur, di situ juga nama Tuhan dipermuliakan. Dengan menyadari bahwa segala sesuatu adalah pemberian dari Tuhan, sudah selayaknyalah kita bersyukur dan memuji nama Tuhan. Tanpa penyertaan-Nya, kita bukanlah siapa-siapa dan tidak akan mendapat apa-apa. Tuhan Yesus memberkati

Doa :

Tuhan Yesus, aku mau selalu bersyukur kepada-Mu di tengah situasi apapun yang terjadi dalam hidupku. Engkau pasti memberikan yang terbaik seturut kehendak-Mu untukku. Amin. (Dod).


Jumat, 06 Januari 2023

Meraih Kekuatan Dari Tuhan



Bacaan :

1 Raja-raja 19:3-4

Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Bersyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana.

Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: "Cukuplah itu! Sekarang, ya TUHAN, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik dari pada nenek moyangku."

 

Renungan :

Pernahkah kita kehilangan kekuatan iman ketika diperhadapkan pada suatu keadaan yang tidak terlalu genting? Seringkali kita menghadapi situasi sulit yang sangat menantang iman dan mampu melewatinya dengan iman yang terfokus pada Tuhan. Namun ada kalanya kita mengalami kekhawatiran dan ketakutan hanya karena persoalan kecil. Di gunung Karmel, Elia menantang raja Ahab beserta 400 orang nabi Baal untuk membuktikan kehebatan Tuhan. Elia mengucapkan doa yang super beriman, "Ya Tuhan, Allah Abraham, Ishak dan Israel, pada hari ini biarlah diketahui orang, bahwa Engkaulah Allah .... dan bahwa aku ini hamba-Mu .... Jawablah aku, ya Tuhan, supaya bangsa ini mengetahui, bahwa Engkaulah Allah." Lalu turunlah api menyambar habis korban bakaran Elia dan ia membunuh ke 400 nabi Baal tersebut. Namun keesokan harinya, ia lari ketakutan ketika mendengar ancaman Izebel, dan berkata, "Cukuplah itu! Sekarang, ya Tuhan, ambilah nyawaku."

Elia berdiri teguh di puncak gunung Karmel mendeklarasikan fokus dan kekuatan imannya kepada Tuhan dan meyakini 100% akan jawaban doanya. Namun imannya jatuh seketika di titik nol hanya karena ancaman seorang perempuan. Ia menjadi putus asa dan ingin mati rasanya. Demikian pula Abraham, yang melakukan hal yang sama ketika ia berbohong tentang Sarah di hadapan Firaun karena berusaha menyelamatkan nyawanya. Daud yang menuliskan pujian yang indah tentang kesetiaan Tuhan yang besar dalam hidup nya, namun juga menyerukan, "Allahku, mengapa Engkau meninggalkan aku?" Musa yang menjadi pemimpin besar, yang membawa bangsa Israel keluar dari Mesir dengan perbuatan tangan Tuhan yang besar, namun ia pun berseru-seru kepada Tuhan ketika berada di Masa dan Meriba, "Apakah yang akan kulakukan pada bangsa ini? Sebentar lagi mereka akan melempari aku dengan batu."

Nabi Elia, Raja Daud dan Musa adalah pahlawan-pahlawan iman yang dipakai oleh Tuhan untuk mendemonstrasikan kuasa-Nya, akan tetapi hal ini tidaklah menjadikan mereka manusia super rohani tanpa kegagalan. Dengan demikian kita tidak perlu berkecil hati ketika tapak perjalanan iman kita seperti grafik yang menurun secara drastis. Saat-saat kegelisahan, kekhawatiran dan ketakutan tidak mampu kita halau, apakah yang harus kita lakukan selanjutnya? Nyatakanlah kepada Tuhan segala kelemahan iman kita dan tetaplah berdiri di gunung Tuhan. Dengan kata lain, iman kita boleh limbung namun tidaklah mati. Demikianlah Tuhan berkata setelah Elia menyampaikan ketakutannya, "Bangunlah, makanlah! Sebab kalau tidak, perjalananmu nanti terlalu jauh bagimu." Kita tidak berdiam diri ketika kondisi iman kita tercekik, namun kita harus bangkit dan meraih kekuatan Tuhan untuk menjalani hari-hari yang penuh tantangan dan menyadari Tuhan selalu setia di dalam kehidupan kita. Tuhan Yesus memberkati.

 Doa :

Tuhan Yesus, aku mohon kekuatan untuk bisa bangkit ketika imanku runtuh, sehingga aku sanggup menapaki jalan kehidupanku sampai akhir. Amin. (Dod).


Kamis, 05 Januari 2023

PERSOALAN SEBAGAI UJIAN



Bacaan Alkitab :

Yakobus 1:2-3 (TB)

“Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, Sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan”.

Jangan pernah takut di saat persoalan sedang menimpa kita, jangan pernah menyerah. jika kita hidup benar dan beriman sungguh- sungguh maka tidak mungkin Tuhan membiarkan kita menanggung persoalan seorang diri. Kadang cara Tuhan memurnikan iman kita melalui persoalan. Tuhan mengizinkan lewat persoalan sebagai bentuk ujian untuk menerima kemuliaan-Nya.

Marilah kita mensikapi dengan benar setiap persoalan yang ada sehingga tidak membuat kita lemah, tak berdaya atau bahkan putus asa.  Tetapi justru lebih bertekun karena di balik persoalan akan membentuk kepribadian kita akan jauh lebih kuat dan lebih siap untuk naik ke level berikutnya.

Tuhan Yesus memberkati


Rabu, 04 Januari 2023

Tahan Uji Dalam Pencobaan



Bacaan Alkitab :

Yakobus 1 : 14

“Tetapi tiap-tiap orang dicobai pleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya...”

Kecenderungan manusia mencari kambing hitam atas pergumulan hidup yang dialaminya memang tidak pernah berubah dari zaman ke zaman. Sejak manusia jatuh dalam dosa, kecenderungan ini menjadi tidak asing lagi. Tetapi manusia tidak cukup puas mengkambinghitamkan ciptaan lain atau sesamanya, ini yang menyebabkan manusia seringkali menyalahkan Tuhan Sang Pencipta. Yakobus menegaskan bahwa sikap ini tidak benar.

Kristen seharusnya kembali kepada kebenaran bahwa pencobaan tidak datang dari Allah karena Ia senantiasa memikirkan, memberikan, dan menganugerahkan yang terbaik bagi kita ( Yak 1 : 13, 17 ). Mana mungkin pencobaan yang menjatuhkan datang dari Allah? Kita sudah tahu darimana asal pencobaan ( Yak 1 : 14,15 ), oleh karena itu tidak ada gunanya lagi mengkambinghitamkan pihak lain, karena sikap ini akan memberi peluang bagi pencobaan itu untuk menguasai dan mengalahkan kita.

Semua orang pasti pernah mengalami pencobaan-pencobaan di dalam hidupnya. Pemicunya adalah keinginan diri. Setelah terseret dan terpikat, lelu ditindaklanjuti hingga berujung pada dosa. Dosa selalu melahirkan maut ( Yak 1 :14 -15 ). Oleh karena itu, Yakobus menyatakan : “Berbahagialah orang yang tahan uji “ ( Yak 1 : 12 ). Artinya pencobaan itu tidak hanya berujung pada dosa. Ada pencobaan yang berujung pada Mahkota Kehidupan. Ini terjadi jika orang tersebut bertahan dan menolak daya tarik kejahatan. Mahkota kehidupan diberikan Allah sebagai bukti bahwa orang tersebut setia mengasihi Allah. Yakobus menolak pendapat bahwa pencobaan di dalam diri manusia berasal dari Allah. Allah tidak pernah mencobai seorang pun. ( Yak 1 : 13 )

Tahan uji dalam pencobaan menjadi kunci sukses dalam mengarungi kehidupan iman Kristen. Alkitab mengisahkan berbagai teladan dari para tokoh iman. Yesus sendiri memperlihatkan ketahanan-Nya dalam ujian setelah Ia menyelesaikan masa 40 hari puasa. Pimpinan Roh Kudus dalam diri Tuhan juga memberi kesaksian bahwa Roh Kudus berperang aktif dalam hidup-Nya. Roh Kudus memampukan orang Kristen untuk mengenali kuat kuasa-Nya melalui ketahanan dalam pencobaan. Tahan uji membuktikan bahwa orang Kristen menggunakan sepebuhnya perlengkapan senjata rohani (Efesu 6 : 10-20 ). Setiap kali menang maka layaklah orang Kristen disebut berbahagia. Nilai moral yang tinggi dalam ketaatan membuat hidup menjadi berhasil.

Orang Kristen perlu serius memperhatikan kondisi tahan uji, karena Allah memang menginginkan kita tahan uji. Dia bukan hanya mengijinkan adanya pencobaan tetapi juga membimbing kita agar lulus dalam pencobaan bagaimanapun bentuk dan sifatnya. Asal kita punya semangat untuk tahan uji, maka meski disekitar kita banyak yang kalah dalam pencobaan, kita tidak akan menjadi sama seperti mereka. Lihat terus pada mahkota kehidupan yang Allah janjikan. Itu akan membuat kita terus memiliki semangat juang untuk mengalahkan pencobaan.

Renungan :

Pencobaan dan pengujian bisa datang bersamaan di dalam kehidupan Kristen, walaupun sumber keduanya saling bertentangan. Keduanya pun dapat berfungsi positif dalam hidup Kristen yang lemahlembut, karena Allah yang sanggup mengubah fungsinya.

Tuhan Yesus Memberkati

Tetaplah Bersyukur



Bacaan :

Roma 15:7

"Sebab itu terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus juga telah menerima kita, untuk kemuliaan Allah."

Renungan :

Di dalam kehidupan sosial yang kita jalani, terkadang keberadaan orang-orang di sekitar kita membuat kita merasa terusik. Hal ini pernah dialami oleh bangsa Israel, di mana Tuhan ingin membentuk dan menguji bangsa ini menjadi suatu bangsa yang kuat, baik secara mental maupun secara rohani. Tuhan ingin melatih bangsa itu menjadi bangsa yang kuat, mampu berperang dan mengandalkan Tuhan. Di samping itu Tuhan juga ingin menguji hati bangsa Israel apakah mereka masih berpaut sepenuhnya kepada Tuhan walaupun situasi sulit datang menghimpit. Namun sangat disayangkan karena dalam situasi seperti itu, tindakan umat Israel mengecewakan Tuhan. "Mereka mengambil anak-anak perempuan, orang-orang itu menjadi istri mereka dan memberikan anak-anak perempuan mereka kepada anak-anak lelaki orang-orang itu, serta beribadah kepada  allah orang-orang itu." (Hak 3:6).

Terkadang kita bertanya mengapa Tuhan membiarkan orang-orang yang menjengkelkan, sirik dan suka menekan berada di sekitar kita. Tetapi ingatlah selalu bahwa tidak jarang Tuhan mengajar kita melalui kondisi-kondisi sulit yang ada di sekitar kita. Kita tidak perlu mengeluh dengan keberadaan mereka. Saat bertemu dengan orang yang selalu menyakiti hati kita, sapalah dengan tersenyum. Bukankah melalui dia Tuhan menjadikan kita orang yang sabar dan kuat? Saat bertemu dengan orang yang pernah mengkhianati kita, baik-baiklah berbincang dengannya. Sebab jika bukan karena dia, kita akan terlalu mudah percaya kepada semua orang. Memang sulit melakukan semua ini dengan kekuatan kita. Untuk itu mintalah kekuatan dan kemampuan dari Roh Kudus. Jika kita mampu melalui kondisi yang sulit untuk mencapai keberhasilan, maka kita sudah maju selangkah secara rohani. Karena itu, jika ada orang-orang yang membuat kita kesal, pandanglah mereka sebagai alat Tuhan. Hanya dengan sikap menerima, bersyukur dan mau belajar melalui kesulitan yang ada kita akan mengalami kemenangan. Temukanlah manfaat dari setiap situasi yang kita alami. Tuhan Yesus memberkati.

Doa :

Tuhan Yesus, berilah aku hati yang selalu bersyukur atas keberadaan orang-orang yang ada di sekitarku. Amin. (Dod).


Senin, 02 Januari 2023

Tuhan Mampu Memulihkan Keadaan Kita



Bacaan :

Amsal 23:18

"Karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang."

Renungan :

Ada seorang pemuda datang ke toko untuk membeli alat tulis. Pemilik toko tidak begitu memerhatikannya, hingga pemuda itu bertanya, "Om masih ingat saya?" Pemilik toko masih berusaha mengingat-ingat siapa dirinya. Belum sempat ia menjawab, pemuda itu melanjutkan kata-katanya, "Saya dulu kekasih Mia. Sejak Mia meninggal, saya sangat terpukul dan seolah tidak bisa melanjutkan hidup saya. Hampir setiap hari saya datang membawa bunga dan menangis di pusara Mia. Hingga kini walaupun sudah 15 tahun dia meninggal saya belum bisa menerima cinta seorang wanita." Pemilik toko itu memandang pemuda itu dengan iba. Dulu Ia memang berpacaran dengan anak saudaranya bernama Mia. Mia yang tidak lama lagi wisuda, tidak disangka-sangka meninggal karena satu penyakit. Pemuda itu tidak bisa menerima kenyataan tersebut. Ia mengalami goncangan jiwa yang kuat, sehingga lama kelamaan uang dan hartanya habis untuk biaya pemulihan jiwanya. Hingga kini ia belum bisa melupakan Mia dan belum juga menikah.

Banyak kenyataan kehidupan yang membuat seseorang sedih kecewa, bahkan berputus asa. Kepergian orang yang dikasih, kehilangan harta kekayaan, kehilangan pekerjaan dan lain-lain. Namun sebagai orang yang percaya kepada Tuhan, kita tidak seharusnya tinggal dalam bayang-bayang masa lalu. Apapun yang terjadi, kita jangan kehilangan semangat. Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah? (Ams18:14). Belajarlah memandang kehidupan secara rasional dan jangan biarkan perasaan menguasai kita. Masih banyak yang Tuhan ingin lakukan bagi dan melalui hidup kita. Tapi Tuhan hanya bisa melakukan itu jika kita memiliki kesiapan hati dan mental. Tuhan sudah berjanji bahwa ia akan memberikan kekuatan serta jalan keluar untuk setiap permasalahan yang kita hadapi. Karena itu janganlah hidup dalam bayang-bayang masa lalu. Bangkitlah dari keterpurukan, tatap masa depan yang masih panjang. Tuhan ada di masa depan, Ia sanggup menggantikan luka dengan sukacita. Ia sanggup menggantikan apa yang telah hilang dari hidup kita. Kita hanya perlu memercayai dia dalam segala hal dan tidak mengandalkan akal pikiran kita sendiri.

Seseorang berkata, "Pecundang hidup di masa lalu. Sedangkan pemenang belajar dari masa lalu, bekerja dengan giat saat sekarang, menuju masa depan." Tidak ada gunanya bersedih, merasa bersalah atau menyesali masa lalu. Kita hidup di masa sekarang ini dan kita harus membangun kehidupan saat ini. Mungkin ada kejadian-kejadian di masa lalu yang begitu menyesakkan hati, tapi kita bisa menyerahkannya kepada Tuhan. Dia yang berkuasa memulihkan keadaan kita, tapi Dia hanya bisa melakukannya jika kita sendiri mau melepaskan diri dari belenggu masa lalu. Dalam tangan Tuhan ada hari depan yang cerah. Dia sanggup mengubah kesedihan menjadi sukacita.

Tuhan Yesus memberkati.

 

Doa :

Tuhan Yesus, aku tidak mau dibelenggu oleh masa lalu yang menyakitkan. Berikanlah aku semangat yang baru untuk memulai hidup yang baru bersama-Mu. Amin. (Dod).


Minggu, 01 Januari 2023

Tuhan Mengontrol Seluruh Kehidupan Kita



Bacaan :

2 Raja-raja 6:15-17

Ketika pelayan abdi Allah bangun pagi-pagi dan pergi ke luar, maka tampaklah suatu tentara dengan kuda dan kereta ada di sekeliling kota itu. Lalu berkatalah bujangnya itu kepadanya: "Celaka tuanku! Apakah yang akan kita perbuat?"

Jawabnya: "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita dari pada yang menyertai mereka."

Lalu berdoalah Elisa: "Ya TUHAN: Bukalah kiranya matanya, supaya ia melihat." Maka TUHAN membuka mata bujang itu, sehingga ia melihat. Tampaklah gunung itu penuh dengan kuda dan kereta berapi sekeliling Elisa.

Renungan :

Pernahkah kita menyadari perbedaan mata jasmani dan mata iman? Mata jasmani terbentur pada sebuah tembok, tetapi mata Iman melompati tembok. Mata jasmani terbatas pada sebuah sudut jalan, tetapi mata iman melihat apa yang ada di balik sudut jalan. Mata jasmani melihat kegelapan, tetapi mata iman menjangkau secercah sinar di balik kegelapan. Mata jasmani menimbulkan keputusasaan tetapi mata iman menimbulkan kekuatan dan pengharapan. Mata iman menjadikan tenang dikala badai menerpa, terhibur ketika kesedihan mendera, tersenyum di balik duka, berbahagia di tengah kepedihan dan menemukan jalan ketika tiada jalan.

Dalam 2 Raj 6:15 -17 kita melihat tentara Raja Aram datang mengepung kota Dotan di mana Elisa berada. Dan ketika pelayan abdi Tuhan, Gehazi, melihat tentara Aram yang besar itu, maka ia ketakutan dan memberitahukan kepada Elisa. Namun Elisa hanya berkata, "Jangan takut, sebab lebih banyak yang menyertai kita daripada yang menyertai mereka." Gehazi dengan mata jasmaninya melihat tentara Aram yang besar sehingga membuat dia gemetar ketakutan. Sedangkan Nabi Elisa dengan mata iman, melihat tentara Tuhan yang jauh lebih besar. Gehazi hanya mampu melihat situasi yang dihadapi dengan mata jasmani. Oleh sebab itulah Nabi Elisa berdoa, "Ya Tuhan, bukalah kiranya matanya supaya ia melihat." Maka Gehazi mulai memiliki mata yang melihat. Nabi Elisa menjalani jenis kehidupan "hidup bukan karena melihat tetapi karena percaya" (2 Kor 5:7). Sedangkan Gehazi  menjalani kehidupan yang "memiliki mata namun tidak melihat" (Mrk 8:18).

Seringkali kita menjalani kehidupan kekristenan dengan mata jasmani bertindak dan berpengaruh jauh lebih besar dari mata iman. Akhirnya kehidupan kekristenan yang kita jalani adalah kehidupan yang uring-uringan karena sebuah masalah, akibatnya penuh dengan kecemasan, ketakutan dan kekalahan, tidak memiliki sikap Iman di dalam Tuhan dan kering akan campur tangan Tuhan. Ini bukanlah kehidupan yang Tuhan inginkan. Kita harus memunyai keyakinan bahwa Tuhan mengontrol seluruh kehidupan kita. Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang besar, yang bukan sekadar mampu menciptakan langit dan bumi, tetapi juga mampu mengubah situasi dan kesusahan yang kita hadapi. Untuk itulah kita harus dapat melihat segala keadaan dengan mata iman, agar di setiap sudut-sudut jalan kehidupan, kita menemukan campur tangan Tuhan. Jika kita hanya hidup dengan mata jasmani, maka kecillah kekuatan kita. Tetapi ketika kita hidup dengan mata iman, maka kita lebih dari seorang pemenang.

Bagaimanakah kita dapat mengubah kehidupan kekristenan "Gehazi"  menjadi kehidupan kekristenan "Elisa"? Dengan mengubah "mata yang tidak melihat" menjadi "mata yang melihat" melalui doa. Karena doa adalah batu penjuru kehidupan kekristenan yang sejati. Berdoalah seperti yang Elisa lakukan. Tuhan Yesus memberkati.

Doa :

Tuhan Yesus, aku rindu senantiasa menikmati campur tangan-Mu dalam hidupku. Bukalah mata imanku untuk melihat dan merasakan kuasa dan keajaiban-Mu. Amin. (Dod).


Bekerjalah Dengan Segenap Hati

  Bacaan : Pengkhotbah 9:10 "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada ...