Translate

Sabtu, 31 Desember 2022

Tuhan Selalu Ada Bersama Kita



Bacaan :

Efesus 6:1-3

"Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.

Hormatilah ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini:

supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi."

Renungan :

Ada satu kisah menarik dari seorang remaja pria. Ia menceritakan tentang kehidupannya saat remaja. Masa remaja adalah masa yang menyenangkan bagi kebanyakan orang yang baru menginjak masa itu. Pergaulan bersama teman-teman menjadi petualangan yang seru. Menerobos batasan-batasan yang ada adalah hal yang sangat biasa. Saat itu ia adalah salah satu remaja yang sama sekali tidak peduli terhadap aturan manapun, baik itu peraturan di sekolah atau peraturan di rumah. Orang tuanya, terutama ayahnya sampai bingung menghadapinya. Hingga sampailah ia pada satu waktu, di mana keadaanlah yang membantingnya dengan keras, menyadarkannya dari kebodohan masa remajanya. Saat itu ia melewatkan malam Natal bersama seluruh anggota keluarganya, karena ia memilih untuk merayakan Natal bersama teman-temannya. Setibanya di rumah, waktu itu pukul tiga pagi, ternyata ada ayahnya yang sedang duduk di tengah kegelapan. Meski menyadari keberadaan ayahhnya di sana, ia tak mengucapkan satu kata pun. Kakinya pun melangkah menuju ke tempat tidur, namun baru beberapa langkah, ayahnya memintanya untuk keluar dari rumah jika tidak mau mematuhi peraturan yang ada di rumah. Sebagai remaja pria, ia pun naik darah lalu berteriak kepada ayahnya bahwa ia mampu hidup sendiri, karena pikirnya ia masih muda dan kuat. Tanpa berpikir panjang, ia pergi meninggalkan rumah tanpa membawa apapun. Selanjutnya ia bekerja sebagai tukang kuli bangunan. Saat itu cukup menyenangkan karena ia menghasilkan uang dengan keringatnya sendiri. Tetapi pekerjaan itu tidak bertahan lama, karena ia sampai pada satu peristiwa yang membuatnya lumpuh. Ia mengalami kecelakaan kerja, ia terjatuh dan dari kejadian itu kedua kakinya lumpuh. Akhirnya ia kembali ke rumah. Selama empat bulan ia hanya terduduk lesu di kursi roda. Dia tidak lagi tampil gagah dan berani. Selama itu pula ayahnya tidak menegurnya. Namun tanpa diketahuinya, di dalam diamnya ternyata ayahnya memperhatikannya. Mungkin ayahnya pun menangis melihat keadaannya. Sampai suatu saat ayahnya memaksanya untuk belajar berjalan. Ayahnyalah yang terus menyemangatinya. Setiap pagi dan sore, ayahnya memapahnya di pundaknya  sambil berkata, "Tidak masalah, selangkah demi selangkah saja. Kamu pasti bisa," Saat itu ia pun membayangkan bagaimana dahulu sang ayah dengan sabar mengajari kaki kecilnya berjalan, dan dengan lembut memegangi tangan kecilnya agar tidak terjatuh. Seketika air matanya pun menetes di pipinya. Ia menyesal atas perlakuan buruknya pada ayahnya selama ini. Memasuki masa remaja membuatnya berpikir bahwa ia tak membutuhkan ayahnya lagi, tetapi ternyata ia salah

Tidak peduli seberapa kuat dan hebatnya kita sekarang, tetap hormatilah orang tua kita. Mereka adalah pahlawan sepanjang masa tanpa tanda jasa. Tuhan Yesus memberkati.

Doa :

Tuhan Yesus, terima kasih untuk kedua orang tua yang kumiliki. Ajarilah aku menjadi anak yang menaruh hormat kepada mereka. Amin. (Dod)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Bekerjalah Dengan Segenap Hati

  Bacaan : Pengkhotbah 9:10 "Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada ...