Bacaan :
Efesus
6:1-3
"Hai
anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian.
Hormatilah
ayahmu dan ibumu — ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata
dari janji ini:
supaya
kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi."
Renungan :
Ada
satu kisah menarik dari seorang remaja pria. Ia menceritakan tentang
kehidupannya saat remaja. Masa remaja adalah masa yang menyenangkan bagi
kebanyakan orang yang baru menginjak masa itu. Pergaulan bersama teman-teman
menjadi petualangan yang seru. Menerobos batasan-batasan yang ada adalah hal
yang sangat biasa. Saat itu ia adalah salah satu remaja yang sama sekali tidak
peduli terhadap aturan manapun, baik itu peraturan di sekolah atau peraturan di
rumah. Orang tuanya, terutama ayahnya sampai bingung menghadapinya. Hingga
sampailah ia pada satu waktu, di mana keadaanlah yang membantingnya dengan
keras, menyadarkannya dari kebodohan masa remajanya. Saat itu ia melewatkan
malam Natal bersama seluruh anggota keluarganya, karena ia memilih untuk
merayakan Natal bersama teman-temannya. Setibanya di rumah, waktu itu pukul
tiga pagi, ternyata ada ayahnya yang sedang duduk di tengah kegelapan. Meski
menyadari keberadaan ayahhnya di sana, ia tak mengucapkan satu kata pun.
Kakinya pun melangkah menuju ke tempat tidur, namun baru beberapa langkah,
ayahnya memintanya untuk keluar dari rumah jika tidak mau mematuhi peraturan
yang ada di rumah. Sebagai remaja pria, ia pun naik darah lalu berteriak kepada
ayahnya bahwa ia mampu hidup sendiri, karena pikirnya ia masih muda dan kuat.
Tanpa berpikir panjang, ia pergi meninggalkan rumah tanpa membawa apapun.
Selanjutnya ia bekerja sebagai tukang kuli bangunan. Saat itu cukup
menyenangkan karena ia menghasilkan uang dengan keringatnya sendiri. Tetapi
pekerjaan itu tidak bertahan lama, karena ia sampai pada satu peristiwa yang
membuatnya lumpuh. Ia mengalami kecelakaan kerja, ia terjatuh dan dari kejadian
itu kedua kakinya lumpuh. Akhirnya ia kembali ke rumah. Selama empat bulan ia
hanya terduduk lesu di kursi roda. Dia tidak lagi tampil gagah dan berani.
Selama itu pula ayahnya tidak menegurnya. Namun tanpa diketahuinya, di dalam
diamnya ternyata ayahnya memperhatikannya. Mungkin ayahnya pun menangis melihat
keadaannya. Sampai suatu saat ayahnya memaksanya untuk belajar berjalan.
Ayahnyalah yang terus menyemangatinya. Setiap pagi dan sore, ayahnya memapahnya
di pundaknya sambil berkata, "Tidak
masalah, selangkah demi selangkah saja. Kamu pasti bisa," Saat itu ia pun
membayangkan bagaimana dahulu sang ayah dengan sabar mengajari kaki kecilnya
berjalan, dan dengan lembut memegangi tangan kecilnya agar tidak terjatuh.
Seketika air matanya pun menetes di pipinya. Ia menyesal atas perlakuan
buruknya pada ayahnya selama ini. Memasuki masa remaja membuatnya berpikir
bahwa ia tak membutuhkan ayahnya lagi, tetapi ternyata ia salah
Tidak
peduli seberapa kuat dan hebatnya kita sekarang, tetap hormatilah orang tua
kita. Mereka adalah pahlawan sepanjang masa tanpa tanda jasa. Tuhan Yesus memberkati.
Doa :
Tuhan
Yesus, terima kasih untuk kedua orang tua yang kumiliki. Ajarilah aku menjadi
anak yang menaruh hormat kepada mereka. Amin. (Dod)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar